Part 1
“Ucapan Hati”
Suatu siang seperti
biasanya kami pulang sekolah tepat pukul 12.30 WIT hati ini tidak tenang dengan
harapan akan bisa mengungkapkan apa yang telah tersirat di wajah salsa dan aku,
aku yakin apa yang salsa rasakan sepeti apa yang aku rasakan hanya kami tidak
ingin terjebak dalam hubungan yang di larang yang telah tersirat begitu indah
dalam ungkapan satu hurufpun bermakna pahala yang dibawa oleh junjungan tecinta
Rasullullah SAW “jangan dekati zina”(QS: Al Isra :32) aku berharap hubungan ini seperti
hubunganya nabi kita dengan Aisya Radiaullahu anhu yaitu hubungan hanya dibatasi
rasa suka dan kemudian di lanjutkan pada pernikahan ketika waktunya tiba. Aku
memberanikan diri untuk ingin mengungkapkan komitmen ini kepada pujaan hatiku
yang akan ku jadikan ratu para bidadari kelak, akupun bergegas untuk mempersiapkan
semua perlengkapan tulisku setelah semuanya dirapikan, salsa pun sudah siap
meninggalkan kelas, tak lama kemudian dia keluar dari kelas menuju pintu keluar
sekolah, aku membuntuti dari belakang dengan harapan teman-temanku tidak
mengikutiku sehingga aku terbebas dari candaan dan sifat buli dari teman –
teman serta paling utama adalah fitnahnya pacaran, salsabila mulai melangkah
keluar dari gerbang sekolah, pandanganku tidak lepas dari gerak geriknya aku
pun mulai mengikutinya dari belakang menyusuri jalan depan sekolah yang penuh
dengan bunga pada pinggiran jalan dekat pagar sekolah yang tersusun rapi,
langka demi langka semakin lama semakin jauh salsa dari pandanganku, akupun
mempercepat langka untuk mengejar salsa.
setelah memastikan teman – temanku
tidak memperhatikan kami, aku mempercepat dan lebih cepat lagi akhirnya
kakikupun tiba merespon dengan cepat menggerakkan kaki ini sampai berlari
mengejar salsa yang mulai menjauh semakin cepat kaki ini diajak berlari semakin
lama semakin jelas salsa dalam pandangan
“Assalamu alaikum ukhti,hai..” dengan raut wajah yang malu, aku berusaha
berpalingkan pandanganku dengan sedikit mencuri pandangan untuk melihat
wajahnya yang tertunduk malu, dengan senyuman yang khasnya yang begitu terekam
dengan baik dalam ingatanku, dua lesung pipinya yang menawan ketika ia mulai
tersenyum siapapun yang bila melihat senyuman yang akan tidak bisa memalingkan
pandangannya dari wajahnya yang ayu, namun suatu keindahan yang diciptakan oleh
Allah hanya akan ditujukan kepada yang akan menghalalkan dia kelak, dari dasar pemahaman
itulah aku bersandar, kami berdua dalam jalan pulang bersama dengan para siswa
yang berjalan menyusuri jalan dengan menjaga jarak antara kami, “boleh g aku
ngomong sesuatu” tanyaku dengan suara yang kaku serta raut wajah yang penuh
harap dan ketika mulut ini berusah mengucapkan satu per satu kata yang ingin
aku utarakan seperti tertahan oleh gemetarnya bibir yang mengucap, namun dengan
penuh harap akan tanggapan dari ucapan tadi,
“ia boleh” dia menjawab dengan penuh heran, karena tidak biasanya aku pulang
bareng sama dia,
aku pun tidak membiarkan dia dalam kebingungannya lama – lama,
“tapi jangan dijawab sekarang, akupun tidak mau bahwa ungkapan ini adalah salah
satu jalan menuju pacaran, tidak ini bukan pacaran aku juga tahu makna pacaran
itu seperti apa karena didalam islam tidak ada pacaran sebelum nikah, “La
takrabu zina”” kamu juga ngertikan maksud saya” kataku dalam usaha menjelaskan
maksud dari tujuan aku menyusuri jalan pulang bersama salsa “iya tapi apa”
tanggapnya penuh dengan khasnya yang ayu dan penuh dengan nada yang sopan, menggambarkan
lesung pipinya yang terus masuk kedalam ketika tersenyum namun penuh dengan penasaran karena aku tahu dia belum menjadi
halal bagiku “tapi janji jangan marah dan jangan punya pemikiran yang macam ya”
ia pun langsung menanggapi “iya tapi apa fichk” , salsa kembali bertanya dengan
nada yang penasaran namun wajah khasnya yang ayu “tapi sumpah ya jangan marah”,
“iya tapi apa” dengan senyumanya yang heran salsa menatapku “aku g tahu memulai
dari mana, kamu juga sudah pasti tahu kalau seorang laki-laki pasti pengen
memiliki pendamping hidup yang sholeha, karena pengen memiliki keturunan yang
bisa dibimbing oleh wanita yang sholeha juga, sehingga anak-anakku kelak
menjadi anak – anak yang sholeh dan sholeha, itu keinginan terbesarku”, aku
berusah dengan penuh kehati-hatian, namun dengan sedikit tergesah-gesah sehingga
aku berhenti sejenak dengan harapan apa yang aku ucapkan bisa dipahami oleh
salsa, suasana tiba-tiba kaku ketika aku memotong penjelasanku, salsa menatapku
dengan penuh heran dengan sesekali mengumbar senyumannya yang manis untuk
menutupi suasana pikirannya yang lagi bercampur aduk antara senang dan
keheranan namun selalu berusaha memahami maksud ucapanku, “gini sal” aku
berusaha melanjutkan penjelasanku “selama ini aku selalu memperhatikanmu kamu
selain pinter sal, kamu juga mudah menerima apa yang aku dan teman-temanku
sampaikan yaitu da’wa dibanding dengan wanita/akhwat yang lain, bukankah sudah
di tuliskan dalam bingkaian lafanya yang Agung””apabila seseorng diberi
petunjuk maka akan dimudahkan jalanya untuk menuju hidayah itu””, dan salah
satu mahluk yang dengan mudah menerima firmanya ialah kamu sal” wajanya mulai
memancarkan rasa senang yang begitu tergambar saat ia tersenyum sesekali dengan
menengokku namun seperti biasanya tidak dengan pendangan yang penuh karena kami
berdua berusaha menghindari pandangan langsung yang bisa membuat hati kami
berpenyakit,
Dibawa terik matahari yang begitu terik menyinari seluruh hamparan
jalan seperti bulan yang bersinar yang dapat menyejukkan hati kami berdua,
menambah indah ketika dari kejauhan terdengan lantunan ayat – ayat suci alquran
diperdengarkan melalui menara mesjid
yang megah nan indah, “jujur aku suka sama kamu sal, namun buka hanya sekedar
aku suka sama kamu karena kamu cantik dan pintar bukan tapi kamu adalah wanita
yang mudah menerima kebenaran dan berprinsip serta disiplin” hmmm “bukankah
banyak wanita yang sama seperti aku masih banyak, kan masih ada anggota
pengurus bidang kerohanian yang kamu pimpin itu, masih banyak yang cantik –
cantik aku perhatiin” nyelahnya sal dalam penjelasanku “apakah harus aku
menelan racun yang bisa meracuni tubuhku” tanggapku “maksudnya” tanya salsa
dengan penuh heran “tidak sal aku tidak ingin memasukkan hati ini dengan
sesuatu yang bukan kehendah hatiku sal, jika aku melakukanya berarti memelihara
bibit racun yang kapan saja akan membuat seluruh tubuh ini kaku dan membiru”
bukankah kita diajarkan untuk selalu adil dalam segala hal maka dari itu aku
berusaha berbuat adil kepada hatiku dengan meletakkan kenyamanan hati ini pada
seseorang bisa menetramkan raja para dagingku ini yaitu hatiku ini” aku berusaha
menjelaskan maksud dari hatiku, yang tidak bisa digantikan dengan perbandingan
apapun karena perbandingan yang distandarkan oleh junjungan kita adalah sholeha
kemudian cantik dan keturunan yang baik namun tidak terlalu jauh dalam
penyetaraan dalam bidang ekonomi, “iya fick aku tahu kamu suka sama aku, aku
juga tahu sehari-hari dalam kelas kamu selalu memerhatikan aku, aku juga
bersyukur kalau ada yang peduli dan perhatian sama aku, tapi hubungan ini
seperti pacaran aku g mau terjebak dengan ungkapan isi hatimu fick yang bisa
menjerumuskan kita dalam pacaran yang sebenarnya” aku menyimak dengan penuh
hayalan dan pikiran yang sangat jauh “iya sal dan ungkapan ini hanya untuk
menegaskan seperti apa yang kamu tahu selama ini dalam kelas, yang aku inginkan
hanyalah kamu tahu isi hatiku yang sebenarnya dan aku pengen hanya menjalin
sebuah komitmen agar hati ini tenang dan fokus kelak kita sudah selesai dari
sini aku akan melemarmu setelah aku sukses untuk kujadikan bidadari duniaku dan
menjadi ratu bidadari akhirat kelak namun bukan pacaran, kita g bakal pacaran
itu yang aku pengen ucapkan dan jangan ganti nomor kamu kelak aku akan menghubungimu
bila sudah saatnya” lanjutku menjelaskan “kamu tahukan gimana hukumnya pacaran,
seperti itulah pemahamanku mengenai hal itu maka aku tidak mau melanggarnya,
yang aku butuh dari kamu adalah sebatas pengakuan akan menantikan kehadiranku
suatu saat nanti bila semua impian akademi telah berhasil” dengan senyuman yang
memesonakan siapapun yang melihatnya,kedua lesung pipi yang selalu hadir
menambah indahnya senyuman yang terpancar dari wajahnya yang ayu, sebagai tanda
persetujuanya terhadap apa yang aku utarakan.
Kami lanjut melangkahkan kaki, menyusuri jalan pulang menuju tempat dimana para siswa menanti angkot
untuk pulang ke rumah mereka, salsa pun menuju tempat dimana tempat dia selalu
menunggu angkot yang jurusannya menujuh kerumahnya, kami pun berpisah didepan
mesjid yang letaknya tidak jauh dari tempat dia menunggu angkot dan aku
memutuskan untuk sholat terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah “makasi ya udah
mau dengarin celetuhan aku sal” ucapan terima kasihku saat kami berpisah “ggp
fich” sambungnya dengan ciri khas senyuman lensung pipi yang memesona