Senin, 27 April 2015

"Afwan akhi ku pinang BacanMu"

Part 1
“Ucapan Hati”

Suatu siang seperti biasanya kami pulang sekolah tepat pukul 12.30 WIT hati ini tidak tenang dengan harapan akan bisa mengungkapkan apa yang telah tersirat di wajah salsa dan aku, aku yakin apa yang salsa rasakan sepeti apa yang aku rasakan hanya kami tidak ingin terjebak dalam hubungan yang di larang yang telah tersirat begitu indah dalam ungkapan satu hurufpun bermakna pahala yang dibawa oleh junjungan tecinta Rasullullah SAW “jangan dekati zina”(QS: Al Isra :32) aku berharap hubungan ini seperti hubunganya nabi kita dengan Aisya Radiaullahu anhu yaitu hubungan hanya dibatasi rasa suka dan kemudian di lanjutkan pada pernikahan ketika waktunya tiba. Aku memberanikan diri untuk ingin mengungkapkan komitmen ini kepada pujaan hatiku yang akan ku jadikan ratu para bidadari kelak, akupun bergegas untuk mempersiapkan semua perlengkapan tulisku setelah semuanya dirapikan, salsa pun sudah siap meninggalkan kelas, tak lama kemudian dia keluar dari kelas menuju pintu keluar sekolah, aku membuntuti dari belakang dengan harapan teman-temanku tidak mengikutiku sehingga aku terbebas dari candaan dan sifat buli dari teman – teman serta paling utama adalah fitnahnya pacaran, salsabila mulai melangkah keluar dari gerbang sekolah, pandanganku tidak lepas dari gerak geriknya aku pun mulai mengikutinya dari belakang menyusuri jalan depan sekolah yang penuh dengan bunga pada pinggiran jalan dekat pagar sekolah yang tersusun rapi, langka demi langka semakin lama semakin jauh salsa dari pandanganku, akupun mempercepat langka untuk mengejar salsa.

 setelah memastikan teman – temanku tidak memperhatikan kami, aku mempercepat dan lebih cepat lagi akhirnya kakikupun tiba merespon dengan cepat menggerakkan kaki ini sampai berlari mengejar salsa yang mulai menjauh semakin cepat kaki ini diajak berlari semakin lama semakin jelas salsa dalam pandangan  “Assalamu alaikum ukhti,hai..” dengan raut wajah yang malu, aku berusaha berpalingkan pandanganku dengan sedikit mencuri pandangan untuk melihat wajahnya yang tertunduk malu, dengan senyuman yang khasnya yang begitu terekam dengan baik dalam ingatanku, dua lesung pipinya yang menawan ketika ia mulai tersenyum siapapun yang bila melihat senyuman yang akan tidak bisa memalingkan pandangannya dari wajahnya yang ayu, namun suatu keindahan yang diciptakan oleh Allah hanya akan ditujukan kepada yang akan menghalalkan dia kelak, dari dasar pemahaman itulah aku bersandar, kami berdua dalam jalan pulang bersama dengan para siswa yang berjalan menyusuri jalan dengan  menjaga jarak antara kami, “boleh g aku ngomong sesuatu” tanyaku dengan suara yang kaku serta raut wajah yang penuh harap dan ketika mulut ini berusah mengucapkan satu per satu kata yang ingin aku utarakan seperti tertahan oleh gemetarnya bibir yang mengucap, namun dengan penuh harap akan tanggapan dari ucapan tadi,  “ia boleh” dia menjawab dengan penuh heran, karena tidak biasanya aku pulang bareng sama dia, 
aku pun tidak membiarkan dia dalam kebingungannya lama – lama, “tapi jangan dijawab sekarang, akupun tidak mau bahwa ungkapan ini adalah salah satu jalan menuju pacaran, tidak ini bukan pacaran aku juga tahu makna pacaran itu seperti apa karena didalam islam tidak ada pacaran sebelum nikah, “La takrabu zina”” kamu juga ngertikan maksud saya” kataku dalam usaha menjelaskan maksud dari tujuan aku menyusuri jalan pulang bersama salsa “iya tapi apa” tanggapnya penuh dengan khasnya yang ayu dan penuh dengan nada yang sopan, menggambarkan lesung pipinya yang terus masuk kedalam ketika tersenyum namun penuh dengan  penasaran karena aku tahu dia belum menjadi halal bagiku “tapi janji jangan marah dan jangan punya pemikiran yang macam ya” ia pun langsung menanggapi “iya tapi apa fichk” , salsa kembali bertanya dengan nada yang penasaran namun wajah khasnya yang ayu “tapi sumpah ya jangan marah”, “iya tapi apa” dengan senyumanya yang heran salsa menatapku “aku g tahu memulai dari mana, kamu juga sudah pasti tahu kalau seorang laki-laki pasti pengen memiliki pendamping hidup yang sholeha, karena pengen memiliki keturunan yang bisa dibimbing oleh wanita yang sholeha juga, sehingga anak-anakku kelak menjadi anak – anak yang sholeh dan sholeha, itu keinginan terbesarku”, aku berusah dengan penuh kehati-hatian, namun dengan sedikit tergesah-gesah sehingga aku berhenti sejenak dengan harapan apa yang aku ucapkan bisa dipahami oleh salsa, suasana tiba-tiba kaku ketika aku memotong penjelasanku, salsa menatapku dengan penuh heran dengan sesekali mengumbar senyumannya yang manis untuk menutupi suasana pikirannya yang lagi bercampur aduk antara senang dan keheranan namun selalu berusaha memahami maksud ucapanku, “gini sal” aku berusaha melanjutkan penjelasanku “selama ini aku selalu memperhatikanmu kamu selain pinter sal, kamu juga mudah menerima apa yang aku dan teman-temanku sampaikan yaitu da’wa dibanding dengan wanita/akhwat yang lain, bukankah sudah di tuliskan dalam bingkaian lafanya yang Agung””apabila seseorng diberi petunjuk maka akan dimudahkan jalanya untuk menuju hidayah itu””, dan salah satu mahluk yang dengan mudah menerima firmanya ialah kamu sal” wajanya mulai memancarkan rasa senang yang begitu tergambar saat ia tersenyum sesekali dengan menengokku namun seperti biasanya tidak dengan pendangan yang penuh karena kami berdua berusaha menghindari pandangan langsung yang bisa membuat hati kami berpenyakit, 

Dibawa terik matahari yang begitu terik menyinari seluruh hamparan jalan seperti bulan yang bersinar yang dapat menyejukkan hati kami berdua, menambah indah ketika dari kejauhan terdengan lantunan ayat – ayat suci alquran diperdengarkan melalui menara  mesjid yang megah nan indah, “jujur aku suka sama kamu sal, namun buka hanya sekedar aku suka sama kamu karena kamu cantik dan pintar bukan tapi kamu adalah wanita yang mudah menerima kebenaran dan berprinsip serta disiplin” hmmm “bukankah banyak wanita yang sama seperti aku masih banyak, kan masih ada anggota pengurus bidang kerohanian yang kamu pimpin itu, masih banyak yang cantik – cantik aku perhatiin” nyelahnya sal dalam penjelasanku “apakah harus aku menelan racun yang bisa meracuni tubuhku” tanggapku “maksudnya” tanya salsa dengan penuh heran “tidak sal aku tidak ingin memasukkan hati ini dengan sesuatu yang bukan kehendah hatiku sal, jika aku melakukanya berarti memelihara bibit racun yang kapan saja akan membuat seluruh tubuh ini kaku dan membiru” bukankah kita diajarkan untuk selalu adil dalam segala hal maka dari itu aku berusaha berbuat adil kepada hatiku dengan meletakkan kenyamanan hati ini pada seseorang bisa menetramkan raja para dagingku ini yaitu hatiku ini” aku berusaha menjelaskan maksud dari hatiku, yang tidak bisa digantikan dengan perbandingan apapun karena perbandingan yang distandarkan oleh junjungan kita adalah sholeha kemudian cantik dan keturunan yang baik namun tidak terlalu jauh dalam penyetaraan dalam bidang ekonomi, “iya fick aku tahu kamu suka sama aku, aku juga tahu sehari-hari dalam kelas kamu selalu memerhatikan aku, aku juga bersyukur kalau ada yang peduli dan perhatian sama aku, tapi hubungan ini seperti pacaran aku g mau terjebak dengan ungkapan isi hatimu fick yang bisa menjerumuskan kita dalam pacaran yang sebenarnya” aku menyimak dengan penuh hayalan dan pikiran yang sangat jauh “iya sal dan ungkapan ini hanya untuk menegaskan seperti apa yang kamu tahu selama ini dalam kelas, yang aku inginkan hanyalah kamu tahu isi hatiku yang sebenarnya dan aku pengen hanya menjalin sebuah komitmen agar hati ini tenang dan fokus kelak kita sudah selesai dari sini aku akan melemarmu setelah aku sukses untuk kujadikan bidadari duniaku dan menjadi ratu bidadari akhirat kelak namun bukan pacaran, kita g bakal pacaran itu yang aku pengen ucapkan dan jangan ganti nomor kamu kelak aku akan menghubungimu bila sudah saatnya” lanjutku menjelaskan “kamu tahukan gimana hukumnya pacaran, seperti itulah pemahamanku mengenai hal itu maka aku tidak mau melanggarnya, yang aku butuh dari kamu adalah sebatas pengakuan akan menantikan kehadiranku suatu saat nanti bila semua impian akademi telah berhasil” dengan senyuman yang memesonakan siapapun yang melihatnya,kedua lesung pipi yang selalu hadir menambah indahnya senyuman yang terpancar dari wajahnya yang ayu, sebagai tanda persetujuanya terhadap apa yang aku utarakan.

 Kami lanjut melangkahkan kaki, menyusuri jalan pulang menuju tempat dimana para siswa menanti angkot untuk pulang ke rumah mereka, salsa pun menuju tempat dimana tempat dia selalu menunggu angkot yang jurusannya menujuh kerumahnya, kami pun berpisah didepan mesjid yang letaknya tidak jauh dari tempat dia menunggu angkot dan aku memutuskan untuk sholat terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah “makasi ya udah mau dengarin celetuhan aku sal” ucapan terima kasihku saat kami berpisah “ggp fich” sambungnya dengan ciri khas senyuman lensung pipi yang memesona

Tidak ada komentar:

Posting Komentar